Memberi Makna Tanpa Memaksa

Hah.. tarikan nafas saya cukup dalam. Malam itu, 78 hari menuju 7 tahun kebersamaan. Dengan Dia yang ada dalam suka dan duka yang entah sudah berapa puluh atau ribu kilometer berjalan bersama. Cara kita mungkin berbeda dengan yang lain. Berjalan bukan hanya sekedar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berjalan adalah pelampiasan dari kebosanan, penawar dari kerinduan dan pengikat dari kerenggangan. Tak pernah ada rencana atau cita-cita untuk lebih mendekatkan diri pada alam dan budaya. Mengikat hubungan dengan ibu pertiwi yang semakin hari, semakin renta ditelan usia. Sekedar bercengkrama, 2 atau 3 jam untuk tahu lebih dalam apa yang dirasa saat ini. Keadaan ini terjadi begitu saja tanpa permisi dan tak pernah mengijinkan kita untuk keluar. Terikat, semakin kita mencoba melepas ikatannya, tali temali itu akan berpindah ke posisi lain yang lebih kuat dan membuat kita tak berdaya.

Masih malam itu, 78 hari menuju 7 tahun kebersamaan dengan dia yang tak pernah lelah berjalan, tak pernah takut untuk melawan ketakutannya seperti perjalanan sore itu, menuju titik harapan dari orang-orang di pos pendakian. Sudah berjalan lebih dari 4 jam, harapan itu masih belum menampakan senyumnya. Di ambang batas kekuatan yang kita miliki, diiringi titik hujan yang semakin lama semakin jelas menjadi butiran dan membuat asa semakin pergi jauh dalam diri. Ada semangat yang tercipta menjadi kekuatan untuk menggapai harapan yang akan berubah menjadi kenyataan.

Dan masih malam itu, 78 hari menuju 7 tahun kebersamaan dengan dia yang menjadi liar dan tak terkendali ketika telapak kaki bersentuhan dengan halusnya pasir dan mata yang menangkap birunya air. Ombak seperti menjadi sahabat, dalam payung matahari senja dan seolah berkata ‘aku rindu’, yang dari pagi tadi meninggalkan laut untuk menerangi semua mahluk.

Malam itu, 78 hari menuju 7 tahun kebersamaan dan 6 bulan yang lalu setelah perjalanan panjang dari bali ke lombok. Ditemani angin malam yang masuk dari jaket kami berdua. Mencoba mematahkan semangat untuk melanjutkan perjalanan malam itu. Lampu kamar dari rumah-rumah warga sudah redup bahkan mati. Hanya cahaya dari bintang dan bulan yang menerangi jalanan malam. Tersesat adalah hal yang paling tidak diinginkan pada posisi saat itu tapi kenyataannya lain. Kita masih harus tersesat bahkan sampai 3 kali sebelum akhirnya berada dalam tenda untuk bermimpi dalam perjalanan selanjutnya.

78 hari menuju 7 tahun kebersamaan. Memori otak kita mungkin sudah tak sanggup lagi menampung banyaknya hal-hal indah selama perjalanan. Meskipun lebih besar dari harddisk yang dijual di pasaran tapi tetap saja, kami lupa dan akan lupa. Pasti. Meskipun garis finish masih jauh sebelum kami menjadi lupa. ini adalah persembahan, untuk terus selalu mengingat kalau kami pernah senang, pernah duka dan pernah lelah. Menjadi bersama dalam waktu yang lama bukan hal percuma. Kita bukan mencari tapi kita menciptakan, baik itu cinta dan kebahagiaan. Dimanapun dan kapanpun. Semoga kalian begitu tanpa menjadi berlebihan satu sama lain. Buatlah sederhana dan lebih bermakna tanpa saling memaksa. Buatlah semakin kuat bukan semakin lama. Ini adalah permulaan untuk menjadi terbiasa tanpa menghilangkan makna dari berjalan yang sudah kita buat lebih dulu, lebih lama dan lebih dalam.

Hahhh.. kali ini tarikan nafas lebih tenang dan berirama. Menuju alam bawah sadar dengan perjalanannya yang semakin indah dari hari ke hari. Semakin berwarna meskipun tanpa cahaya bulan dan bintang. Selamat malam..

Tanpa Ucap

Memberi Makna Tanpa Memaksa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s