Bandung.. Cerita Dibalik Gedung-Gedung Tua

Sebelum terlalu banyak kota dan tempat yang saya ceritakan disini, dari mulai pantai, gunung, laut dan sungai, biar enggak dikatain kacang lupa kulitnya. Saya ingin bercerita sedikit mengenai Bandung, kota yang biasa saja tapi menjadi objek rindu ketika saya berada diluar kota. Bukan munafik, saya sangat mengagumi Kota ini dengan segala isinya, manusia, bangunan dan alam. Ada kreatifitas yang tidak biasa dari orang-orang yang saya temui di kota ini, absurd, liar dan tak terjangkau. Bangunan-bangunan bersejerah peninggalan kolonial menjadi saksi kreatifitas itu tumbuh dan alam seperti menjadi faktor yang mendukung terbentuknya imaji dari kreatifitas itu. Bentuknya yang cekungan seperti ‘katel’, dikelilingi gunung-gunung di berbagai sudutnya, Bandung menjadi ajang membentuk pola pikir yang sempurna untuk melawan atau bahkan mengikuti arus kehidupan.

Bukan tanpa sebab, 22 tahun sudah hidup di Kota ini. Dan merasakan beberapa kali hidup di kota lain, membuat saya bisa membandingkan sumber daya yang dimiliki Bandung emang luar biasa beda. Kalau masalah musik, industri kreatif, fashion sama kulinernya emang udah terkenal kemana-mana. Ada yang beda yang ‘mungkin’ biasa aja di mata orang lain. Saya dan detri yang emang dasarnya suka sama hal-hal yang baru, akhirnya ketemu juga di Bandung, pas kita lagi ikut heritage city tour keliling pusat kota Bandung yang terkenal sama bangunan tua dan bersejarah bekas peninggalan masa kolonial. Waktu itu, yang bikin tur Bandung Trails. Kalau kalian penyuka sejarah dan bangunan-bangunan tua pasti udah kenal sama penyelenggara tur ini.

Banyak yang kita dapet dari ikut tur ini, dari mulai pengetahuan sejarah sampai temen baru. Turnya enggak lama, cuma 6 jam, dimulai jam 8 pagi di titik nol kilometer Bandung (depan hotel savoy homan/dinas bina marga) dan finish di gedung Bank Indonesia yang menyimpan sejarah perbankan dan keuangan di masa kolonial. Bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi saksi berkembangnya Bandung dari dulu hingga saat ini seperti menyiratkan pesan perjuangan. Meskipun diterpa cuaca dan polusi yang makin hari makin mengganggu, bangunan itu tetap kokoh berdiri.

Banyak dari banguan tersebut memiliki gaya arsitektur artdeco dan salah satu arsitek yang paling banyak membuat gedung-gedung tersebut adalah C.P. Wolff Schoemaker. Perjalanan tur yang dilakukan di dalem kota Bandung yang biasanya hanya kita lewati tanpa mau menoleh, memiliki kesan tersendiri, lupa akan segala hal tentang hal-hal negatif yang sedang terjadi.

Sampah, PKL, macet dan polusi, hal yang sudah biasa di kota besar. Tur yang membawa kita seperti kembali ke zaman dimana Charlie Chaplin masih bisa berjalan kaki di sepanjang jalan asia afrika tanpa takut tertabrak mobil yang lalu lalang. Indahnya Bandung pada saat itu. Tapi sekarang.. Bandung tetap indah dengan segala aneka ragam keunikan yang dimilikinya yang masih menjadi daya tarik wisatawan dan traveller dari berbagai dunia untuk berkunjung. #BandungJuara

Bandung View From Top

Jalan Raya Pos (sekarang Jl. Asia Afrika) dan pemukiman dari atas Masjid Raya

De Vries dan Hotel Savoy Homan

Dua bangunan peninggalan masa kolonial di jalan asia afrika

Peserta Tur Bandung Trails

Peserta saat melintas jalan braga dengan latar belakang gedung KAA

Advertisements

4 thoughts on “Bandung.. Cerita Dibalik Gedung-Gedung Tua

  1. Kangen bandunggggggggggg

    Like

  2. Makasih buat infonya, noted…nanti kalau ke Bandung saya pasti ikut tur ini deh… 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s