Surya Kencana, Pelepas Lelah Perjalanan Panjang

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan taman nasional yang terletak diantara Cipanas, Cibodas dan Sukabumi, cuma itu yang saya tau sebelum memutuskan buat hiking kesini. Ada dua gunung yang jadi favorit para pendaki, pertama Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Lokasinya deketan, kaya sodaraan gitu tapi masing-masing gunung beda medan dan karakteristik. Buat yang udah berpengalaman biasanya lebih banyak milih Gunung Pangrango tapi buat pemula kaya saya, kebanyakan milih Gunung Gede yang medannya enggak terlalu susah tapi banyak juga ko yang udah berpengalaman naik Gunung Gede, berkali-kali malah kaya temen-temen baru saya dari Cipanas.

Beberapa cobaan sebelum sampe pos pendakian gunung putri udah nyamperin kita duluan, macet selama perjalanan dari Bandung menuju Cipanas sama supir angkot yang nyerah karena jalan menuju pos pendakian rusak parah, katanya dulu enggak kaya gitu. Jadi pas dari Cipanas supir angkot ini iya-iya aja tapi sekarang tambah jelek katanya. Emang sih jelek banget, tambah kesel pula karena si supir kaya enggak tanggung jawab nurunin kita pinggir jalan, masih nagih ongkos lagi setengahnya. Mau ngambil foto enggak kepikiran. Pikiran saya sama teman-teman saat itu, gimana caranya dapat mobil, becak atau apalah buat ngangkut kita semua ke pos pendakian. Ada beberapa sih mobil bak terbuka yang lalu lalang bawa sayuran. Tangguh banget mobil-mobilnya tapi enggak ada yang kosong. Jadi, kita harus nunggu sampe ada mobil yang enggak bawa sayuran dan mau numpangin kita sampai ke pos pendakian, tentunya dengan bayaran :D.

Mobil ke empat lah yang jadi rejeki kita, tujuannya ke arah yang sama kaya tujuan kita. Saya dan detri yang baru pertama naik gunung diem aja. Teman-teman Santi lah yang nego ke supir bak terbuka.

“Ayo naik, naik!”, salah seorang temen teriak. Yes, ini yang saya tunggu. Naikin dulu carrier yang pada gede-gede kecuali punya saya sama si detri yang kecil sebelum akhirnya kita naik ke dalam bak mobil. Yeeeaaa… asik ternyata, bisa lebih leluasa liat pemandangan, sawah di kanan kiri, seger banget nih mata :D. Patungan buat transport dari Cipanas sampe ke pos pendakian cuma 10 ribu, murah banget kan? Sebelum ke pos pendakian, kita turun di pinggir jalan. Ada beberapa warung di pinggir jalan yang jadi pilihan kita buat beli beberapa makanan dan minuman. Soalnya sampai atas enggak akan ada lagi yang jualan, katanya. Sebelum hiking dimulai dan kita semua berdoa, saya sama detri yang bener-bener pemula ngerasa seneng banget sekaligus sedikit deg-degan :D.

Perjalanan pun dimulai, langit saat itu bersahabat sekali, awannya yang cukup banyak membuat matahari enggak terlalu menyengat, suasana pegunungan yang sejuk dan bebas polusi mulai terasa. Hap.. hap.. hap..  Track untuk menuju pos pendakian lumayan lama dan jalannya cukup miring. 20 menit, kita baru sampai pos. Nafas sedikit terengah-engah dan keringat mulai bercampur dengan sejuknya udara gunung putri. Di pos pendakian, saya dan detri hanya menunggu dari depan teras, teman-teman yang lain mengurus perijinan/ SIMAKSI. Enggak lama dan kurang dari 15 menit kita sudah diperbolehkan lanjut perjalanan, disana cuma ditanya bawa sabun, shampo atau odol enggak, ketiga benda itu sebenarnya dilarang untuk dibawa biar enggak mencemari air di gunung gede, karena kita semua enggak ada yang bawa, petugas pun mempersilahkan melanjutkan perjalanan.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya kalau saya dan detri bakalan ngerasain yang namanya naik gunung. It was so amazing, selama perjalanan kita berdua seneng banget. Liat di kanan jalan ada sawah dan bukit-bukit gunung, sesekali papasan sama pendaki lain yang baru turun atau sama petani yang habis dari sawah. Seneng bangetttt!!! Tujuan kedua adalah tempat singgah buat kita makan, tracknya udah agak kelihatan kalau kita lagi naik gunung :D. Cape sih tapi masih belum seberapa, sesekali emang harus pegangan ke pohon biar bisa lewatin tanjakan.

Makan Bersama

Ini yang membuat makanan menjadi enak 😀

Di pemberhentian kedua, kompor mini yang dibawa temen dinyalain, langsung masak air. Beberapa lagi selonjoran termasuk saya yang ngerasain pegel di pundak dan kaki :D, Santi yang udah bawa nasi sama lauknya pas dari rumah, langsung aja dibuka tuh makanan, yang lain pada serbu makanan. Saya yang emang enggak laper terpaksa makan biar rame aja, dua bungkus nasi buat 11 orang ditambah lauk seadanya emang lebih enak daripada makan di restoran :D. Ditambah kopi dan teh manis buat penambah tenaga menuju track yang ‘sedikit’ lebih curam. Horeeeee!! (aslinya mah enggak se sumringah itu )

Pelajaran yang saya dapat dari naik gunung adalah jangan pernah jadi so’ jagoan atau ngerasa kuat apa lagi so’ tau. Harus nurut sama orang yang emang udah bener-bener berpengalaman. Jangan malu kalau kita dianggap lemah atau apapun, toh mereka juga pasti ngerti. Ini bukan masalah siapa yang kuat dan siapa yang lemah tapi gimana caranya biar kita bisa tetep hidup sampai ke puncak.

Perjalanan sudah hampir 3 jam, setengah perjalanan sudah terlewati. Niat awal mau jalan barengan ternyata enggak, beberapa ada yang udah duluan, sebagian lagi ada yang dibelakang. Saya dan detri ada diantara keduanya, ditemani sama Santi dan dua orang temennya. Sambil terus ngasih semangat biar enggak banyak berhenti.

Santi yang emang udah beberapa kali ke gunung gede, kaya enggak ngerasain cape sama sekali, atau mungkin karena badannya yang kecil ya jadi dia enggak terlalu cape :D. Pokoknya salut banget sama temen kita yang satu ini.

Ambang batas kesabaran muncul pas hari udah mulai gelap, matahari enggak terlihat lagi dari balik dedaunan. Kabut yang kadang turun tapi kadang naik jadi saksi gimana pegel sama capenya saya dan detri saat itu. Saran temen buat pakai jas hujan sudah saya turutin, meskipun hujan enggak terlalu besar tapi bisa jaga suhu tubuh biar tetep hangat. Intensitas istirahat semakin sering, apa lagi detri. Beberapa kali nanya berapa lama lagi yang menandakan kalau dia udah pengen cepet-cepet sampai dan saya mengamini.

Hutan Tropis

Hutan Tropis Selama Perjalanan

Tiba-tiba ditengah jalan, hujan semakin membesar. Kita dapet kabar kalau beberapa teman sudah sampai Surya Kencana. Tempat yang akan kita jadikan untuk mendirikan tenda dan bermalam sebelum keesokan paginya hiking ke puncak. Tiba-tiba, detri yang berjalan di depan saya berhenti, mematung, cukup lama. Saya yang melihat hal itu, tidak begitu kaget, biasa saja. Meskipun ada jarak tapi saya bisa merasakan apa yang sedang dipikirkan dan dialami oleh badannya. Cape luar biasa, jalan yang masih menanjak membuat mentalnya sedikit menurun.

“Duduk dulu yu!”, ajak saya tanpa banyak bertanya ini itu. Dia menoleh ke belakang, lalu ke samping, matanya mencari tempat untuk menyimpan beban-beban di pundaknya. Kita berdua duduk, sisa air mineral masih cukup untuk sampai ke Surya Kencana.

“Pasti bisa, ayo selesaikan!”, sambil berdiri saya menyodorkan tangan untuk membantunya berdiri juga. Perjalanan dilanjutkan dengan sisa-sisa tenaga dan mental yang semakin menipis. Teman kita yang sudah sampai Surya Kencana ternyata turun lagi untuk menjemput saya dan detri sekaligus memastikan kita berdua baik-baik saja. Beban di pundak detri sekarang berpindah ke pundak teman kita, detri menjadi semangat lagi meneruskan perjalanan. Begitupun saya yang terpacu melihat semangatnya.

Tak berapa lama, kita sampai di hamparan tanah luas yang sudah hampir sepenuhnya tertutup kabut. Hujan yang deras membuat jarak pandang menjadi terganggu. Akhirnya, perjalanan akan segera berakhir, pikir saya. Meskipun dingin semakin menusuk dan air hujan mulai merambat masuk ke dalam jaket dan baju, semangat untuk sampai tempat berkemah mengalahkan semuanya. Teh hangat, mie instan dan rokok menjadi penutup perjalanan hari itu, ditemani obrolan dari teman-teman baru saya. Meskipun bulan dan bintang seperti malu-malu untuk muncul karena terhalang awan. Malam itu lebih indah karena saya dan detri baru menyelesaikan perjalanan panjang nan melelahkan tadi. Sampai akhirnya kita semua masuk ke tenda masing-masing, menyelinap ke dalam sleeping bag yang setengahnya sudah basah dan besok adalah perjalanan yang paling kami tunggu-tunggu. Menuju harapan dari para pendaki yang ada di Surya Kencana malam ini, Puncak Gunung Gede.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s