Ketika Mimpi Menjadi Nyata

Tepat pukul  15.05 tanggal 29 Agustus 2013 pesawat airasia dengan nomer penerbangan QZ7910 lepas landas meninggalkan Bandara Husein Sastranegara Bandung. Cuaca cukup cerah, penerbangan berjalanan tanpa hambatan. Semua penumpang berada di kursinya sambil menikmati penerbangan sore itu, mengobrol dengan teman atau keluarga disampingnya. Berbeda dengan saya yang sendirian, menikmati langit sore dengan gumpalan awan komulunimbus yang mempesona. Rasa was-was selepas lepas landas tadi masih tersisa sedikit, guncangan ban roda pesawat beradu dengan landasan pacu membuat saya duduk mematung. Instruksi dari pramugari melalui pengeras suara benar-benar saya lakukan, mengencangkan sabuk pengaman dan berdiri tegak selama lepas landas sedang berlangsung. Rasa sedih karena akan meninggalkan Bandung bercampur dengan rasa gembira karena impian saya akan segera terwujud. Ya, hari itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat. Meskipun sudah pergi ke beberapa tempat di Indonesia tapi merasakan terbang bersama burung besi baru kali pertama untuk saya. Wajar kalau saya dibuat was-was ketika pesawat akan lepas landas.

Sebelum itu, kedatangan saya ke bandara diantar oleh ayah, ibu, kedua adik saya, kakek-nenek dan pacar saya. Hal itu dikarenakan perjalanan kali ini sangat spesial, tidak seperti perjalanan-perjalanan yang biasa saya lakukan. Mereka akan melepas saya untuk 4 bulan lamanya, menuju tempat yang cukup jauh dari Bandung untuk menimba ilmu dan pengalaman di timur Indonesia, Flores. Peluk hangat dan ciuman membuat perpisahan itu semakin terasa. Satu tas carrier besar di punggung dan daypack yang saya tenteng menemani saya melewati pos penjagaan di Bandara. Sempat kikuk dan akhirnya saya putuskan untuk bertanya kepada petugas bandara. Setelah print out boarding pas, saya menuju counter Air Asia. Dengan ramah, kru dari Air Asia mengambil barang-barang yang akan dimasukan ke bagasi dan menghitung beratnya. Proses di counter check in bagasi tidak berjalan lama karena sebelumnya saya sudah menggunakan self check in yang ditawarkan Air Asia, itu benar-benar membantu bagi saya yang masih awam.

2 tahun sebelumnya, saya pernah bermimpi bisa pergi ke pulau Flores. Untuk apapun itu alasannya, saya ingin menginjakan kaki disana. Salah satu program televisi membuat keinginan saya memuncak dari hari ke hari. Obsesi saya untuk pergi ke Flores sempat pudar setelah tahu biaya dan jarak yang jauh dari Bandung. Tuhan berkehendak lain, saat itu kuliah saya masuk semester 7 dimana setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti on the job training. Tanpa sengaja saya kembali teringat mimpi saya tentang Flores. Setelah mencari informasi kesana kemari akhirnya saya bertemu dengan non-profit organization yang mengelola pariwisata di Flores. Tanpa basa-basi saya langsung mengajukan permohonan untuk menimba pengalaman disana. Gayung pun bersambut, pihak NGO memberikan ijin untuk saya melakukan kegiatan di Flores. Senangnya sudah tak bisa terbendung, memuncak, membubung terbang tinggi.

Saya yang saat itu masih awam dengan dunia airlines sempat kebingungan untuk memutuskan keberangkatan ke Flores. Pasalnya, dua kali penerbangan harus saya jalani untuk dapat sampai ke Flores. Transit pertama yaitu di Pulau Bali. Demi menghemat pengeluaran, saya mencari penerbangan yang murah tapi aman. Susah sekali karena jadwal keberangkatan saya saat itu bertepatan dengan peek seasson, dimana semua maskapai menetapkan harga yang tinggi untuk tiket perjalanan dari Bandung ke Bali. Diluar dugaan, Air Asia yang terkenal dengan penerbangan berbiaya rendah dengan pelayanan yang baik sedang promosi untuk hari keberangkatan saya. Bolak-balik ke kantor Air Asia di Bandung untuk mencari informasi tiket promosi tersebut hingga dua hari berturut-turut. Akhirnya di hari kedua, saya putuskan untuk langsung membeli tiket BDO-DPS tanggal 29 Agustus karena sudah benar-benar yakin tidak ada yang lebih murah dari harga itu dan saya tidak mau ambil resiko menunggu lebih lama, takut tiket promo laku terjual habis.

Kembali di dalam pesawat, perjalanan yang ditempuh 1 jam 55 menit itu tidak terasa membosankan. Saya benar-benar menikmati pemandangan berada diatas awan yang dibalut sinar matahari senja. Tepat sebelum malam tiba, pesawat sudah berada di atas pulau Bali, bermanuver diatas laut menuju Bandara Ngurah Rai yang memang berada dekat sekali dengan pantai. Takjub dan tidak percaya, sebentar lagi saya akan berada di Pulau Bali, meski ini yang kedua kalinya tapi terasa berbeda karena saya akan keluar dari dalam pesawat dan melenggang ke dalam Bandara sebelum bertemu lagi dengan backpack saya di tempat pengambilan barang. Selamat datang Bali dan Terima kasih Air Asia.

Tulisan ini diikutsertakan dalam #blogcompetition 10 tahun Air Asia “Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s