Ketika Mimpi Menjadi Nyata

Tepat pukul  15.05 tanggal 29 Agustus 2013 pesawat airasia dengan nomer penerbangan QZ7910 lepas landas meninggalkan Bandara Husein Sastranegara Bandung. Cuaca cukup cerah, penerbangan berjalanan tanpa hambatan. Semua penumpang berada di kursinya sambil menikmati penerbangan sore itu, mengobrol dengan teman atau keluarga disampingnya. Berbeda dengan saya yang sendirian, menikmati langit sore dengan gumpalan awan komulunimbus yang mempesona. Rasa was-was selepas lepas landas tadi masih tersisa sedikit, guncangan ban roda pesawat beradu dengan landasan pacu membuat saya duduk mematung. Instruksi dari pramugari melalui pengeras suara benar-benar saya lakukan, mengencangkan sabuk pengaman dan berdiri tegak selama lepas landas sedang berlangsung. Rasa sedih karena akan meninggalkan Bandung bercampur dengan rasa gembira karena impian saya akan segera terwujud. Ya, hari itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat. Meskipun sudah pergi ke beberapa tempat di Indonesia tapi merasakan terbang bersama burung besi baru kali pertama untuk saya. Wajar kalau saya dibuat was-was ketika pesawat akan lepas landas.

Continue Reading

Advertisements

Memberi Makna Tanpa Memaksa

Hah.. tarikan nafas saya cukup dalam. Malam itu, 78 hari menuju 7 tahun kebersamaan. Dengan Dia yang ada dalam suka dan duka yang entah sudah berapa puluh atau ribu kilometer berjalan bersama. Cara kita mungkin berbeda dengan yang lain. Berjalan bukan hanya sekedar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berjalan adalah pelampiasan dari kebosanan, penawar dari kerinduan dan pengikat dari kerenggangan. Tak pernah ada rencana atau cita-cita untuk lebih mendekatkan diri pada alam dan budaya. Mengikat hubungan dengan ibu pertiwi yang semakin hari, semakin renta ditelan usia. Sekedar bercengkrama, 2 atau 3 jam untuk tahu lebih dalam apa yang dirasa saat ini. Keadaan ini terjadi begitu saja tanpa permisi dan tak pernah mengijinkan kita untuk keluar. Terikat, semakin kita mencoba melepas ikatannya, tali temali itu akan berpindah ke posisi lain yang lebih kuat dan membuat kita tak berdaya.

Continue Reading

Welcome Traveling!

Begitulah mungkin kata-kata yang pas untuk menggambarkan kita berdua pada saat pertama kali mengenal dunia traveling. Awalnya kita sama sekali tidak tau apa itu traveling dan apa yang mereka lakukan dengan traveling. Dulu kita lebih mengenal istilah liburan atau holiday untuk menyebut bepergian ke luar kota atau ke tempat wisata.

Sekarang, kita ternyata berada dalam lingkaran traveling. Lingkaran yang sulit sekali untuk keluar. Kita seperti ketagihan untuk terus dan terus melakukannya. Mengisi kesenangan dalam batin kita, meleburkan yang marah menjadi senang dan membuat yang jauh menjadi dekat. Traveling jika diartikan secara bebas adalah perjalanan ke tempat diluar tempat kerja atau kehidupan sehari-hari yang lebih mendekatkan diri kepada alam dan masyarakat sekitar untuk menikmati dan menjadi bagian dari mereka tanpa harus merusak atau melakukan hal-hal negatif diluar kebiasaan hidup mereka.

Dan kita, kita hampir 7 tahun berada di lingkaran ini, berjalan terus, mencari indonesia, menciptakan kesenangan dengan masyarakat lokal dan bercengkarama dengan alam. Bukan tidak ingin berkunjung ke negara lain. Masih terlalu banyak tempat yang belum kita singgahi, kedekatan kita dengan Indonesia masih belum begitu intim. Daripada dapat informasi yang enggak jelas dari berita-berita tentang tanah air sendiri, lebih baik kita cari tau yang sebenarnya.

Tempat pertama yang menjadikan kita begitu tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat lain adalah Pantai Batu Karas. Yap, pantai yang ada di selatan Jawa Barat itu menjadi awal dari perkenalan kita sebelum mengenal tempat-tempat lain yang lebih indah. Sekarang, Pantai Batu Karas sudah jarang sekali kita datangi tetapi kita menjadikan tempat itu sebagai kampung halaman yang wajib dikunjungi minimal setahun sekali. Cerita lengkap tentang Pantai Batu Karas bisa kalian baca disini